Pemetaan Infrastruktur Oleh AHY Jadi Fondasi Rehabilitasi Sumatera

Sabtu, 29 November 2025

    Bagikan:
Penulis: Seraphine Claire
Pemetaan yang cermat terhadap infrastruktur yang rusak dinilai sebagai langkah pertama yang kritis untuk memastikan proses rehabilitasi berjalan efektif dan dana yang dialokasikan dapat dimanfaatkan secara optimal. (KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA)

Provinsi Sumatera – Inisiatif Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk memetakan kerusakan infrastruktur pasca bencana banjir dan longsor di Sumatera mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Langkah proaktif ini dipandang sebagai upaya serius untuk membangun fondasi yang kokoh dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah-wilayah yang terdampak.

Pendekatan yang akan digunakan dalam pemetaan ini bersifat multi-dimensi, tidak hanya berfokus pada kerusakan fisik yang terlihat secara kasat mata. Tim akan menilai dampak tidak langsung dari putusnya akses infrastruktur terhadap roda perekonomian, layanan kesehatan, dan kegiatan pendidikan di daerah bencana.

AHY menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam pelaksanaan pemetaan. Semakin lama proses pemulihan infrastruktur, semakin besar dampak ekonomi dan sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat. Oleh karena itu, proses pengumpulan data di lapangan harus dilakukan secara sistematis dan efisien.

Fokus pemetaan akan diarahkan pada infrastruktur strategis yang menjadi urat nadi penghubung antardaerah. Kerusakan pada jalan provinsi, jembatan penghubung kabupaten, dan jaringan irigasi pertanian akan mendapatkan prioritas utama untuk segera ditangani.

Di samping aspek teknis, AHY juga menyoroti perlunya membangun sistem peringatan dini dan infrastruktur pendukung yang dapat memitigasi dampak bencana serupa di masa depan. Konsep "build back better" harus menjadi arus utama dalam setiap tahap pembangunan kembali.

Sinergi dengan kementerian/lembaga terkait di tingkat pusat sangat diperlukan untuk menyelaraskan program pemetaan ini dengan agenda nasional. Harmonisasi kebijakan ini penting untuk menghindari tumpang tindih program dan memastikan sumber daya digunakan secara maksimal.

Pelibatan akademisi dan praktisi dari dalam negeri juga dipertimbangkan untuk memberikan kontribusi pemikiran berdasarkan kajian ilmiah dan best practices dari daerah lain. Hal ini diharapkan dapat menambah kualitas dan kedalaman dari data yang akan dihasilkan.

Pada akhirnya, pemetaan infrastruktur ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumen statis, tetapi menjadi living document yang terus diperbarui. Dokumen ini akan menjadi panduan operasional yang jelas bagi pemerintah daerah dan pusat dalam memulihkan kondisi Sumatera pasca bencana.

(Seraphine Claire)

Baca Juga: Medan, Sumatera Utara: Korban Tewas Bencana Alam Capai Puluhan Jiwa
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.